Senin, 24 September 2012

CIRI-CIRI SEKOLAH EFEKTIF

Oleh : Sendi yona
    
Ciri-ciri sekolah efektif yaitu:
(1)    adanya standar disiplin yang berlaku bagi kepala sekolah, guru, siswa, dan karyawan di sekolah
(2)     memiliki suatu keteraturan dalam rutinitas kegiatan di kelas
(3)     mempunyai standar prestasi sekolah yang sangat tinggi
(4)     siswa diharapkan mampu mencapai tujuan yang telah direncanakan
(5)     siswa diharapkan lulus dengan menguasai pengetahuan akademik
(6)     adanya penghargaan bagi siswa yang berprestasi
(7)     siswa berpendapat kerja keras lebih penting dari pada faktor keberuntungan dalam meraih prestasi
(8)     para siswa diharapkan mempunyai tanggungjawab yang diakui secara umum
(9)     kepala sekolah mempunyai program inservice, pengawasan, supervisi, serta menyediakan waktu untuk membuat rencana bersama-sama dengan para guru dan memungkinkan adanya umpan balik demi keberhasilan prestasi akademiknya. 
Metode lain yang dipakai untuk mengidentifikasikan sekolah yang efektif adalah : penggunaan standar tes, pendekatan reputasi, dan penggunaan evaluasi sekolah serta pengembangan berbagai aktifitas.
Sekolah efektif memandang sekolah sebagai suatu sistem yang mencakup banyak aspek baik input, proses, output maupun outcome serta tatanan yang ada dalam sekolah tersebut. Dimana berbagai aspek yang ada dapat memberikan dukungan satu sama lain untuk mencapai visi, misi dan tujuan, dari sekolah yang dikelola secara efektif dan efisien.
Banyak ruangan kelas belajar di sekolah efektif mencapai 23 ruangan yang hampir dua kali lipat daripada banyak ruangan kelas di sekolah tidak efektif yang hanya 12 ruangan. Jumlah dana operasional pertahun di sekolah efektif ternyata jauh lebih banyak (hampir mencapai tiga kali lipat) daripada sekolah tidak efektif yaitu Rp. 985.000.000 berbanding Rp. 345.000.000. 
Ditinjau dari segi karakteristik guru ternyata ada perbedaan yang cukup menonjol antara sekolah efektif dengan sekolah tidak efektif. Hal ini terlihat dari umur guru di sekolah efektif lebih tua daripada sekolah tidak efektif yaitu 48 tahun berbanding 42 tahun; pengalaman mengajar guru di sekolah efektif lebih lama daripada sekolah tidak efektif yaitu 18,3 tahun berbanding 12,1 tahun. Sejalan dengan pengalaman tersebut besar gaji guru pertahun di sekolah efektif lebih tinggi daripada di sekolah tidak efektif.tetapi dari segi pendidikan terakhir guru ternyata sama saja yaitu sarjana atau setingkat sarjana baik untuk sekolah efektif maupun di sekolah tidak efektif. Dengan demikian, bila ditinjau dari segi pengalaman dan umur guru ternyata kualifikasi guru di sekolah efektif lebih baik daripada di sekolah tidak efektif, sebab dengan umur dan pengalaman mengajar yang lebih tinggi berarti kemampuan guru dalam menyelenggarakan proses belajar mengajar menjadi lebih baik.
Karakteristik siswa di sekolah efektif ternyata lebih baik daripada di sekolah tidak efektif. Hal ini terlihat dari jumlah jam belajar siswa di rumah per minggu di sekolah efektif lebih banyak daripada di sekolah tidak efektif yaitu 17,5 jam berbanding 14,3 jam per minggu, jumlah jam les tambahan 5 jam berbanding 3,1 jam per minggu; rata-rata pendidikan orangtua siswa di sekolah efektif adalah sarjana sedangkan di sekolah tidak efektif adalah sarjana muda; dan penghasilan orangtua siswa di sekolah efektif jauh lebih tinggi daripada di sekolah tidak efektif.
NEM sekolah, rata-rata skor konsep diri siswa, kepuasan kerja guru, partisipasi orangtua siswa, dan iklim sekolah ternyata secara umum kualitasnya lebih baik di sekolah efektif daripada di sekolah tidak efektif. Hal ini terlihat dari rata-rata NEM Sekolah efektif yang jauh lebih tinggi daripada di sekolah tidak efektif
 Dengan demikian, nampaknya penyelenggaraan pendidikan di sekolah lebih berorientasi/sekolah efektif pada upaya-upaya pencapaian hasil belajar kognitif siswa dengan mengabaikan pengembangan kepribadian, sikap, dan perilaku siswa. Ini dapat dipahami dari orientasi kebijakan dan praktik penyelenggaraan pendidikan yang memang terlalu menekankan pada kemampuan kognitif siswa tanpa diimbangi dengan kemampuan afektif siswa seperti pada kriteria seleksi penerimaan siswa baru, proses belajar menganjar maupun sistem evaluasi keberhasilan sekolah. 
Keberhasilan sekolah efektif di Indonesia saat ini, semata-mata diukur berdasarkan perolehan NEM tanpa memperhatikan bagaimana keberhasilan sekolah dalam membina perilaku dan kepribadian siswa di sekolah tersebut. Padahal, tingkat kenakalan remaja seperti perkelahian antar pelajar, keterlibatan jual beli dan pemakai narkoba, serta tindakan-tindakan asosial lainnya cukup tinggi. Masyarakat dan orangtua siswa sesungguhnya sangat mengharapkan agar sekolah menjadi tumpuan dalam membangun etika, moral, dan keadaban siswa sebagai bagian dari pembentukan karakter bangsa.

2 komentar:

  1. Nama : Emy tri frasutila fitriana
    NIM :7101411418

    1)Menurut Anda bagaimana apabila ada sekolah yang dalam satu kelas melebihi kapasitas persyaratan yang telah ditentukan. . . ?
    2) Apakah ada tehnik supervisi yang baik? kalau ada olong sebukan!

    BalasHapus
  2. sistem pendidikan di indonesia masih belum tepat sasaran , sasaran yg dimaksud adalah mencerdaskan anak bangsa usia sekolah dan jangan sampai ada yg putus sekolah , terutama pada golongan menengah ke bawah . memang pendidikan skarang geratis tapi itu untuk negeri . karena standar nem sekolah negeri itu tinggi banyak anak didk yg nem nya rendah akhirnya masuk ke sekolah swasta yg tidak gratis . yg banyak dialami sebagian besar anak didik dari golongan menengah kebawah dari sisi ekonomi keluarganya . kenapa mereka mendapat nem rendah ? karena sebagian besar mereka tidak mampu untuk ikut les privat, bimbel yg mahal , ditambah lagi sebagian waktu belajar mereka membantu orang tua nya mencari nafkah atau fasilitas belajar yg tdk memadai dirumah , atau gizi rendah, yg akhirnya sekolah negeri sebagian besar dihuni oleh anak2 didik dari golongan mampu saja . apakah adil ? kenapa akhirnya anak didik dari golongan ini masuk sekolah yg harus bayar alias swasta . sempat terlintas dalam pikiran saya peserta anak didik tdk perlu duduk dibangku sekolah untuk dapat nem bagus , mereka cukup ikut les privat , ikiut bimbel . yg materinya hanya membahas latihan soal2 saja , setelah itu ikut ujian ? apakah sistim pendidikan di indonesia sudah adil dan merata ? pemerintah lah yg harus nya menjawab ......

    BalasHapus